Mengenal Kopi Jaran Goyang Khas Desa Kemiren, Daya Tarik Wisata yang Kental Tradisi Masyarakat Osing

Mengenal kopi khas Kemiren, Jaran Goyang, Daya Tarik Wisata yang Kental Tradisi Budaya Masyarakat Osing Banyuwangi

Penulis: Nur Ika Anisaul Jannah
Editor: Nur Ika Anisaul Jannah
Instagram @kopai_osing
Masyarakat Desa Wisata Kemiren menyangrai kopi di Sanggar Genjah Arum 

TRIBUNJATIMTRAVEL.COM, SURABAYA- Desa Wisata Osing Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, tak hanya kondang lantaran budaya dan keseniannya. Tapi juga terkenal akan kopi khas daerah setempat, yang masyarakat sekitar menamainya dengan sebutan Kopi Osing.

Kepiawaian masyarakat Osing'>Suku Osing (suku asli Banyuwangi) dalam menyangrai dan menyeduh kopi tradisional tak diragukan lagi. Gelaran festival kopi yang menjadi event tahunan, turut melambungkan nama kopi khas masyarakat Osing hingga ke tingkat internasional.

Di balik kenikmatan segelas kopi yang disajikan, ada makna filosofis yang juga turut digaungkan masyarakat Kemiren. Filosofi tersebut tidak hanya menjadi sebatas selogan saja, tapi juga menjadi modal promosi yang itu bisa menggerakkan ekonomi masyarakat.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kencana Kemiren Mohammad Edy Saputro mengatakan, tradisi ngopi di Kemiren mengusung filosofi “sak corotan dadi seduluran.” Artinya, dari segelas kopi yang diseduh, bisa memperluas ikatan persaudaraan.

Dimana dengan menikmati seduhan kopi bersama, para tamu maupun masyarakat setempat akan saling mengenal dan bersilaturahim. “Jargon dari tester kopi dunia Pak Iwan Subekti itulah yang menimbulkan semangat teman-teman perkopian di Banyuwangi khususnya di Desa Kemiren,” kata Edy kepada tribun Jatim travel, Selasa (25/5/2021).

Muda-mudi menggunakan baju khas adat Osing Kemiren
Muda-mudi menggunakan baju khas adat Osing Kemiren (Instagram @desa_kemiren)

Tidak sedikit produk merek kopi yang bisa ditemukan di Desa Wisata Kemiren, di antaranya Kopai Osing milik Iwan Subekti di Sanggar Genjah Arum Kemiren dan Kopi Jaran Goyang.

Edy menjelaskan, penamaan Kopi Jaran Goyang merujuk pada mantra pengasih khas Banyuwangi. Cita rasa kopi yang memikat membuat siapapun yang pernah mencicipi jadi jatuh cinta.

“Kami kelola biji kopi itu dengan konsep mantra pengasih Banyuwangi sebagai promosi,” ujarnya.

Seduhan kopi yang disajikan masyarakat Osing pun cukup khas. Dimana kopi yang disajikan tidak menggunakan gelas melainkan cangkir khusus dengan corak seragam. Bukan cangkir biasa tentunya. Melainkan cangkir yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

“Cangkir-cangkir itu warisan keluarga yang memang masih dipertahankan semua masyarakat Kemiren,” kata Edy.

Budaya ngopi yang ada di Desa Wisata Kemiren pun diakuinya telah ada sejak zaman lampau. Dalam tradisi masyarakat Osing, setiap ada tamu yang datang paling utama menyuguhkan secangkir kopi. Cangkir-cangkir kopi warisan leluhur Osing di Kemiren dari dulu hingga sekarang masih terawat.

“Tradisi ini yang juga menjadi brand wisata dari sebuah budaya yang melekat di Kemiren,” ucapnya.

Bagi masyarakat Osing Kemiren, segelas kopi menjadi sajian wajib untuk mengawali hari yang akan dijalani. Makanya tak heran setiap pagi akan tercium aroma kopi yang kuat, saat berkunjung ke rumah masyarakat di sana.

Suguhan segelas kopi yang disajikan masyarakat Osing Kemiren, biasanya disanding dengan kuliner tradisional. Seperti kue klemben maupun kue kucur gula aren.

Keuntungan lain yang bisa didapat wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Kemiren adalah berkesempatan terlibat mengolah kopi secara tradisional. Utamanya belajar menyangrai kopi. Wisatawan juga biasanya diajak belajar menari gandrung, hingga menyantap makanan khas seperti Pecel pitik dan ayam uyah asem.

Barong Ider Bumi, ritual masyarakat Osing di Kemirem yang dilakukan setiap tanggal 2 syawal
Barong Ider Bumi, ritual masyarakat Osing di Kemirem yang dilakukan setiap tanggal 2 syawal (Foto istimewa)


Baik kopi maupun kuliner khas yang disajikan, bisa dinikmati sambil merasakan sensasi tinggal di Rumah Adat Osing. Di Desa Wisata Kemiren, hampir semua rumah masih berbentuk rumah adat Osing.

Ada 47 homestay yang dikelola masyarakat. Dimana beberapa kamar di antaranya disewakan untuk wisatawan. Pemandangan yang ada pun bakal membuat wisatawan semakin betah. Dimana wisatawan menikmati pemandangan Gunung Ijen maupun Gunung Raung yang terlihat jelas dari sana.

Jarak Desa Wisata Kemiren dari Kota Banyuwangi sekitar 10 kilometer. Akses jalan cukup mudah, bisa ditempuh menggunakan sepeda motor maupun kendaraan roda empat.

Banyak pihak yang terlibat dalam promosi maupun pengembangan wisata Desa Adat Kemiren. Di antaranya Bank Indonesia (BI) dan Generasi Baru Indonesia (GenBI) Jember.

Edy menuturkan, keterlibatan Bank Indonesia dimulai pada 2019. Saat itu, GenBI Jember dan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo melakukan kunjungan ke sana. Tertarik dengan keunggulan yang dimiliki, BI Jember pun turun tangan untuk terlibat dalam pengembangan Desa Wisata Kemiren.

Bantuan yang dijanjikan BI nampaknya bukan sekedar angin surga. Dimana setelah kunjungan yang dilakukan, BI Jember langsung melakukan penganggaran untuk sarana-prasarana berupa bantuan sound system pertunjukan, perbaikan toilet dan pembangunan rumah adat Osing di Dusun Kedaleman Desa Kemiren.

“Kami mengajukan UMKM kami yaitu Kopi Kemiren Jaran Goyang menjadi UMKM binaan Bank Indonesia. Akhirnya kami menjadi UMKM inspiratif Bank Indonesia se-Jatim di 2019, mewakili Bank Indonesia Jember. Saat ini menempuh SNI untuk kopi,” ujar Edy.

Terkait Pengembangan Kopi Jaran Goyang, Edy menambahkan, Bank Indonesia Jember juga memberi dukungan berupa perbaikan tempat produksi kopi khas Kemiren yang dikelola masyarakat setempat.

“Kami masih proses. Cukup banyak yang dilakukan Bank Indonesia dan GenBI Jember terutama untuk pengembangan kepariwisataan dan UMKM di Desa Wisata Kemiren,” ujar Edy.

Ketua Pokdarwis Kencana Kemiren Mohammad Edy Saputro (kanan) menghadiri acara Klaster Kopi Binaan Bank Indoensia Jatim
Ketua Pokdarwis Kencana Kemiren Mohammad Edy Saputro (kanan) menghadiri acara Klaster Kopi Binaan Bank Indoensia Jatim (Instagram @desa_kemiren)

Edy melanjutkan, Desa Wisata Kemiren Banyuwangi telah kembali menyambut wisatawan di era new normal. Ia juga memastikan, di masa pandemi seperti ini, seluruh pengunjung wajib menjalankan protokol kesehatan.

Adapun protokol kesehatan yang dimaksud adalah dengan menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak serta tidak berlibur ketika suhu badan lebih dari 37.5 derajat celcius.

“Selama pandemi beberapa kegiatan masih berjalan dan ada kunjungan wisatawan. Namun untuk Pokdarwis kami mengonsep small grup, paket terpecah di beberapa tempat dan private untuk menjaga keamanan wisatawan dan masyarakat,” ujar Edy.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved