Cerita Wisatawan

CERITA WISATAWAN : Berburu Suku Walandit Sekitar Gunung Bromo Yang Tidak Lepas Dari Suku Tengger

Desa Keduwung Atas dianggap sebagai desa yang paling kental sejarah cikal bakal suku asli Gunung Bromo, yaitu suku Walandit.

Penulis: Nur Ika Anisaul Jannah
Editor: Nur Ika Anisaul Jannah
istimewa
Warga Keduwung Atas 

TRIBUNJATIMTRAVEL.COM, MALANG - Keberadaan Suku Tengger sangat identik dengan Wisata Bromo , namun tahu kah kalian mengenai keberadaan Suku Walandit di sekitar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ?

Perjalanan berburu keberadaan Suku Walandit dilakukan oleh Lestariningsih, seorang penulis dan juga guru sekolah menengah di Gempol Pasuruan.

Lestariningsih memulai perjalanan dari Pauruan menuju Pasrepon, Puspo, Pusung Malang dan berakhir di Desa Keduwung Atas.

Lestariningsih mengatakan, Desa Keduwung Atas dianggap sebagai desa yang paling kental sejarah cikal bakal suku asli Gunung Bromo, yaitu suku Walandit.

"Nama Walandit baru saya dengar dari dari Pak Inggih Uripani, ketua RT yang menceritakan tentang suku turunannya dengan semangat. Ia akan jauh lebih semangat jika mendapati seseorang atau tamu yang ingin mengeksplor wilayahnya, apalagi jika tamu itu berasal dari luar daerah," kata Lestariningsih kepada Tribunjatimtravel , beberapa hari yang lalu.

Perjalanan mulai menantang ketika kami mulai menuju arah dua Desa Pusung Malang- Keduwung Atas . Jalan berlubang, turun-naik-menukik dan melintasi beberapa hutan.

Baca juga: Berikut Protokol Kesehatan Berwisata ke Gunung Bromo, Tanpa Rapid Test Sertakan Surat Bebas ISPA

Baca juga: Ranu Pani Dipoles Jadi Wisata Unggulan, Wisata Suhu Minus Kawasan Bromo Tengger Semeru

Bau khas hutan karet, kopi dan pinus mulai berpadu. Apalagi ketika melintasi bukit dan jalan berkelok cukup tajam.

"Jalan berpaving sesekali bertemu dengan tikungan-tikungan tajam. Meskipun demikian saya dan tim pembuatan film pendek benar-benar menikmatinya. Belum lagi kanan kiri jurang dengan jalan selebar truk kecil pengangkut pasir," kata dia.

Nama Suku Walandit mungkin tidak setenar Suku Tengger.

Lestariningsih mengatakan, keberadaan Suku Walandit diakui warga setempat tidak bisa dipisah dengan Suku Tengger.

“Suku Walandit dan Suku Tengger tidak bisa dipisah. Suku Tengger berawal dari Suku Walandit”, begitu Pak Ponjoyo Kasum Desa Keduwung Atas ketika bercerita di depan perapen malam itu. Juga Pak Inggih menegaskan bahwa cerita Suku Walandit sudah ada sejak jaman Mojopahit. Dimana Raja Hayam Wuruk memerintahkan kepada para utusan, untuk menyampaikan pengumuman tertulis berupa undang-undang. Undang-undang ini ditulis di lepeng logam," paparnya.

Disebutkn bahwa lempeng logam yang berupa prasasti dikeluarkan pada waktu Gajah Mada menjabat sebagai mahapatih.

Prasasti yang menyebutkan tentang persengketaan antar penduduk Desa Walandit dengan Desa Himad mengenai status ‘Dharma Kabuyutan’ di Walandit.

Prasasti tersebut berisi keputusan Raja Hayam Wuruk atas Desa Walandit , desa yang dihuni oleh para Hulu Hyang, pengabdi setia Sang Hyang Widi.

Baca juga: Lokasi dan Akses Wisata Pantai Grajakan, Pesona Indahnya Pantai di Ujung Timur Pulau Jawa

Baca juga: Genjot Promosi Pariwisata, Pemprov Jatim Adakan East Java Social Network (EJSN) Meet Up

Sehingga warga Walandit adalah warga yang suci di tempat ‘hila-hila’ atau suci. Atas dasar kesucian itulah maka diperintahkan kepada para punggawa untuk tidak menarik titilan ( iuran untuk upacara ritual) di Desa Walandit sebagai desa yang dikeramatkan.

Peristiwa lain dari isi prasasti, pada tahun 1327 Saka bulan Asada (21 Juni 1405) penduduk Desa Wanlandit dibuatkan piagam perunggu dalam rangka mengukuhkan perintah Bhatara Hyang ing suka gelar anumerta raja Hayam Wuruk.

Artinya, Desa Walandit dikukuhkan keberadaannya oleh Raja Hayam Wuruk yang memiliki gelar tersebut dengan dituliskan di dalam prasasti (Bhatara Hyang-gelar).

Menurut berbagai sumber, pada tahun 1880 ditemukan prasasti lempengan perunggu oleh seorang petani perempuan. Temuan ini terdapat di perbatasan desa Wonokitri, tidak jauh dari wilayah Desa Keduwung Atas. Temuan ini di simpan di Museum Nasional dengan no.inv. E28 dengan nama Prasasti Walandit, yang ditemukan di Desa Walandit.

"Dengan demikian kesimpulan saya, keberadaan Suku Walandit eksis jauh sebelum kedatangan Joko Seger. Konon ketika Kerajaan Mojopahit menyisihkan diri karena terdesak oleh datangnya agama Islam, yaitu saat Kerajaan Demak mendudukinya, Joko Seger bergerak menuju Gunung Bromo," kata Lestariningsih.

"Menyunting Putri tercantik serta melahirkan kisah keluarga yang dramatis, hingga ada kisah pengorbanan dari salah satu putra mereka. Pengorbanan ini kemudian diabadikan dalam upacara besar dengan nama Upacara Kasada, yakni upacara yang dilakukan pada bulan ke sepuluh atau dalam bahasa Jawa ‘Sedasa atau Ka=ke, dasa= sepuluh’," tambahnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved