Curhatan Penambang Belerang dan Guide Lokal Kawah Ijen di Masa Pandemi Covid-19

Dari eksotika kawah ijen, ada para penambang belerang dan guide setempat yang mencari nafkah.

Instagram
Penambang Belerang Kawah Ijen (@kawahijenindonesia) 

TRIBUNJATIMTRAVEL.COM, BANYUWANGI- Pesona Kawah Ijen tidak hanya memberi hidup bagi pariwisata Jawa Timur. Dari eksotika kawahnya, ada para penambang belerang dan guide setempat yang mencari nafkah.

Pekerjaan yang berat bahkan maut dipertaruhkan untuk seorang penambang belerang, jika tidak waspada.

Hal tersebut dilakukan Asrin, seorang penambang yang juga kerap memperbarui saluran pipa belerang.

Setiap hari Asrin akan berjalan kaki menaiki gunung Ijen, kemudian turun menuju kawah untuk mengecek pipa-pipa saluran belerang.

Kepulan asap belerang yang menyengat terkadang membuat mata perih dan napas sesak bukan penghalang semangat bagi para penambang ini.

"Saya setiap hari naik, kalau ada pipa sumber belerang yang rusak diperbarui," kata Asrin beberapa waktu lalu di Kawah Ijen.

Palu, linggis, keranjang bambu dan karung goni menjadi peralatan. Menerobos dingin cuaca kawah ijen dengan baju yang tidak cukup tebal.

Pertama ke Kawah Ijen? Simak Tips Persiapan Mendaki Gunung Ijen

Jumlah penambang belerang, dikatakan Asrin sekitar 200 orang. Mereka kerap berangkat dini hari. Menerobos gelap dan cuaca dingin.

Dini hari menjadi waktu yang tepat untuk mendaki kawah ijen, sebab asap belerang tidak mengarah ke areal penambangan.

Mereka kemudian mengangkut hasil belerang menggunakan keranjang bambu. Jangan bilang enteng, karena rata-rata setiap penambang mengangkut beban belerang seberat 60-70 kilogram. Naik turun sebanyak dua kali dalam sehari.

Penambang-penambang belerang ini menjadi ciri khas yang unik dan khas kawah ijen.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved