Memaknai Semangat Kemerdekaan, Upacara dan Kirab Bendera Merah Putih di Gunung Saat Pandemi

Merayakan Semangat Kemerdekaan dan Bentang Bendera Merah Putih di Puncak Gunung, Tetap dengan Protokol Kesehatan

surya.co.id
Pengibaran bendera di Gunung 

TRIBUNJATIMTRAVEL.COM, SURABAYA- Tingginya kasus virus Corona (Covid-19) di Indonesia, khususnya Jawa Timur, tidak menyurutkan semangat para pendaki untuk berkegiatan di alam bebas (outdoor). Misalnya, rencana upacara kemerdekaan dan pengibaran pusaka merah putih di ketinggian puncak gunung.

Para pendaki dari berbagai organisasi maupun komunitas pecinta alam mengintensifkan kegiatan di alam bebas (outdoor) dengan standart kesehatan.

Kegiatan semarak kemerdekaan dengan membentangkan 1.000 meter bendera merah putih ke Puncak Pawitra Gunung Penanggungan akan digelar pada, Senin (17/8/2020) mendatang.

Ratusan pendaki dari berbagai komunitas pecinta alam di Jawa Timur merencanakan pendakian melalui jalur situs kuno Desa Kedungudi, Trawas, Mojokerto. Digelarnya upacara kemerdekaan dan pembentangan bendera merah putih di puncak Gunung Penanggungan ini ditujukan untuk mengajak pemuda-pemudi memaknai lebih dalam nasionalisme dan ideologi pancasila.

"Dengan tetap menjalankan anjuran pemerintah wajib menaati protokol kesehatan yang berlaku demi keselamatan dan kesehatan bersama. Tujuan kami, sama-sama membangun pola pikir pemuda pemudi yang memiliki jiwa nasionalisme, patriotisme serta ideologi pancasila yang kokoh," kata Panitia bersama Darmuji, Sabtu (15/8/2020).

Pelaksanaan upacara dan bentang pusaka merah putih di puncak gunung rupanya memiliki penghayatan dan makna sendiri di kalangan para pendaki. Hal itu dirasakan oleh Agung Hidayat, seorang pegiat aktivitas outdoor. Bagi Agung, aktivitas pendakian untuk merayakan kemerdekaan RI disebut sebagai hari raya pendaki. Kebebasan untuk mengenal jati diri, mengontrol ego, mental ideologi, membangun karakter dan relasi.

"Bukan istilah menakhlukan, tapi mengkhidmati cita-cita luhur apapun latar belakang kita dan pendaki lain supaya tidak mudah goyah, jiwa-jiwa nasionalisme terbangun kembali. Ketika sudah mengenal, terkait alam, saya yakin secara tidak langsung akan menjaga alam bukan hanya untuk diri sendiri dan sekitar tapi bangsa. Banyak pengetahuan bukan sekadar pendakian," kata Agung.

Taman Nasional Baluran Kembali Dibuka Untuk Wisatawan, Pendaftaran Masuk Melalui Online

Bentang 1000 Meter Bendera Merah Putih di Gunung Penanggungan, Kibar Semangat Kemerdekaan

Meski demikian, pria yang tergabung dalam pendakian Rombongan Arek Alas (Ralas) ini meminta para pendaki untuk saling guyup rukun. Terutama pendaki pemula yang mulai mengikuti atau menyemarakan HUT RI Ke-75 di puncak. Agung meminta para calon pendaki untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai persiapan, pengetahuan jalur, logistik dan aturan keamanan naik gunung lainnya.

"(Pendaki pemula) masa mendidih pencarian jati diri juga harus diimbangi dengan sharing kepada yang berpengalaman. Jangan malu bertanya, belajar, berkarya, bergerak bersama," kata Agung.

Beberapa tahun terakhir, aktivitas upacara bendera di puncak gunung seolah menjadi tren tersendiri di kalangan pendaki. Antusias pendakian menjelang hari kemerdekaan semakin meningkat, meskipun beberapa gunung khususnya di Jawa Timur sebagian belum dibuka akibat pandemi Covid-19. Pelaksanaan upacara pendakian kerap diikuti oleh pendaki lawas yang tergabung dari berbagai komunitas maupun pendakian grup kecil. Lantas, di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini, apakah masih memungkinkan?

Menurut Ketua DPProv Jatim Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia ( APGI Jatim ) M Anshori beberapa gunung di Jawa Timur belum dibuka terutama gunung-gunung yang kerap kali digunakan sebagai kemah atau bermalam maupun untuk momen 17 Agustus. Misalnya Gunung Semeru, Gunung Arjuno- Welirang dan Gunung Argopuro.

Sensasi Ketinggian Puncak Watu Jengger Mojokerto yang Cocok untuk Pendaki Pemula

"Pendakian gunung di Jatim sebagian belum buka artinya aktivitas pendakian untuk 17 Agustus tidak banyak, paling banyak dan sentral di Gunung Semeru tapi saat ini belum dibuka. Mungkin kalau ada (upacara) di Gunung Penanggungan," kata Anshori.

Kendati demikian, Anshori mengimbau agar masyarakat tetap menaati aturan terutama protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah setempat maupun pengelola gunung jika memang berencana melakukan pendakian di 17 Agustusan, mendatang.

Beberapa pengelola gunung maupun Taman Nasional diketahui telah menerapkan kuota 50 persen dari kapasitas hari biasanya. Hal tersebut ditujukan untuk memastikan protokol kesehatan secara aman dalam hal ini jaga jarak atau physical distancing.

"Implementasi dari berbagai SOP protokol kesehatan dan kebersihan yang perlu dipatuhi," tutup Anshori.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved