Hindari Pemicu Bosan dan Stres Saat Karantina Mandiri Selama Wabah Corona

masalah utama pandemi corona ialah tidak ada kepastian kapan wabah akan berakhir.

Istimewa
Taufik Akbar Rizqi Yunanto, S.Psi., M.Psi., Psikolog 

TRIBUNJATIMTRAVEL.COM, SURABAYA-Hampir dua bulan imbauan di rumah saja atau mengurangi aktivitas di luar rumah yang dikampanyekan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus Corona atau Covid-19.

Pemerintah mengimbau agar aktivitas dapat dilakukan di rumah, misalnya bekerja, belajar dan beribadah.

Banyak orang mungkin sudah merasa bosan menjalani masa karantina mandiri atau beraktivitas di rumah dalam wabah Corona.

Menurut Dosen Psikolog Fakultas Psikologi UBAYA Taufik Akbar Rizqi Yunanto, S.Psi., M.Psi., kondisi bosan dan kecemasan muncul sebagai penyesuaian diri dalam kondisi yang tidak menyenangkan atau tidak nyaman di luar kebiasaan.

Misalnya, disebut Taufik, kebiasaan bekerja di kantor, belajar di sekolah yang harus diganti online dan lebih banyak aktivitas di rumah.

"Karena kita keluar dari zona nyaman kita, karena kita sudah terbiasa dan terbentuk habit kemudian harus menyesuaikan diri bekerja, beristirahat di rumah. Itu asal muasal stress dan cemas," kata Taufik Akbar Rizqi Yunanto melalui telpon, Senin (20/6/2020).

Selain kebiasaan yang berubah, alasan psikologis dari karantina mandiri yang terasa menjenuhkan selama corona ini juga dipengaruhi dari penyesuaian physical distancing.

"Kondisi-kondisi berbeda yang akan dialami masyarakat dapat memicu kecemasan sendiri," kata dia.

Meski masyarakat sudah mulai terbiasa dengan aktivitas selama karantina mandiri, lanjut Taufik, masalah utama pandemi corona ialah tidak ada kepastian kapan wabah akan berakhir.

Kondisi ini amat mungkin menjadi beban pikiran lain yang membuat kecemasan selama karantina mandiri.

"Kondisi uncertainty, inilah yang membuat semakin cemas. Kapan ya kira-kira selesai, akan berakhir, kapan masuk kantor lagi dan kapan bisa berinteraksi dengan teman-teman ku lagi. Kondisi ketidakpastian ini memicu semakin cemas, stres dan tidak ada harapan," beber Taufik.

Bahkan, perubahan kondisi semakin cemas bisa mempengaruhi fisik atau psikosomatik.

"Karena kita kondisi cemas, stres kemudian kondisi fisik kita mereaksi tiba-tiba asam lambung naik, mulas, pusing sendiri, terlalu banyak mendapat informasi tentang covid-19," kata Taufik.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved